JAKARTA : Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Lollan Panjaitan, mengaku, khusus Posko Angkutan Laut berlangsung lebih lama dibanding angkutan lainnya.
Itu disampaikan saat menutup penyelenggaraan Pos Koordinasi (Posko) Angkutan Laut Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025, di Kantor Kementerian Perhubungan Jakarta, Kamis, 9 Januari 2025.
Menurut Lollan Panjaitan yang mewakili Dirjen Hubla, dikarenakan angkutan laut memiliki beberapa karakteristik khusus.
Seperti proses pemantauan dan koordinasi, rute dan durasi perjalanan, serta faktor lainnya. Ini yang membuat penyelenggaraan posko angkutan laut lebih lama.
Diakui, meskipun adanya tantangan seperti cuaca ekstrem. Namun penyelenggaraan angkutan laut Nataru, secara umum berjalan dengan lancar.
“Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi dan kerja nyata bersama seluruh unsur Ditjen Perhubungan Laut dan stakeholder sektor transportasi laut,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan dan monitoring selama penyelenggaraan angkutan Nataru, terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
Diantaranya jumlah penumpang yang mengalami kenaikan, dibandingkan dengan masa Nataru 2023/2024.
Secara nasional, jumlah total pergerakan transportasi laut sebanyak 1,89 juta pergerakan. Angka tersebut naik 5,3 persen dari tahun 2023 yang berjumlah 1,79 juta pergerakan.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa realisasi Angkutan Nataru mencapai 79,15 persen dari target prediksi.
Lollan menyampaikan, beberapa hal yang menjadi catatan untuk meningkatkan penyelenggaraan angkutan laut pada masa Nataru mendatang.
Diantaranya perlu adanya sinkronisasi kebijakan, baik dalam pengambilan kebijakan maupun implementasi di lapangan.
Selanjutnya, yakni evaluasi sarana dan prasarana serta evaluasi terhadap Sumber Daya Manusia (SDM), baik internal maupun eksternal.
Selain itu juga kesiapan stakeholder terkait, baik internal maupun eksternal, termasuk asosiasi dan masyarakat.
“Hal penting lainnya yang perlu saya ingatkan kembali bahwa dalam tahun ini akan ada beberapa waktu libur panjang yang perlu mendapat perhatian, seperti libur Isra Miraj dan juga Tahun Baru Imlek, Nyepi serta menjelang Angkutan Lebaran Tahun 2025,” ungkapnya.
Untuk itu, Lollan menyampaikan beberapa hal langkah-langkah persiapan kebijakan oleh masing-masing UPT.
Dimulai dari pembentukan tim posko, melakukan evaluasi terhadap sarana prasarana kapal. Untuk segera diindentifikasi untuk dilakukan uji petik. Koordinasi dengan stakeholder, melalui rapat koordinasi internal dan eksternal.
Termasuk berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat , dan asosiasi terkait lainnya. Serta mempersiapkan SDM, yang akan bertugas.
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Hartanto menyampaikan, penyelenggaraan Posko Nataru Angkutan Laut dilaksanakan pada 264 titik pantau, menurunkan 32 armada KPLP, 34 kapal kenavigasian dan 14,5 ribu personil secara nasional.
Berdasarkan evaluasi tahun lalu, persiapan yang perlu dilakukan untuk menghadapi libur panjang tahun 2025 ini, diantaranya pembentukan tim posko, ramp check, tiket online, jadwal/optimalisasi kapal.
Serta koordinasi stakeholder internal dan eksternal yang sudah mulai melakukan sinkronisasi kebijakan di wilayah masing-masing termasuk ke masyarakat.
“Tak lupa perbaikan terhadap rencana Kontijensi Plan untuk angkutan Lebaran,” ujar Hartanto.
Hartanto mengatakan, realiasi jumlah naik turun penumpang Angkutan Nataru naik sebesar 5,37 persen dibandingkan tahun lalu.
Adapun untuk penyelenggaraan Tiket Gratis Periode Nataru telah dilaksanakan di 100 ruas, dengan menyiapkan 43 armada kapal dengan total tiket terjual sebesar 27,8 ribu tiket atau 92,86 persen dari 29,9 ribu tiket yang telah disiapkan.
Serta terdapat beberapa kegiatan penyelamatan maupun perbantuan Angkutan Nataru oleh Kapal KPLP dan Kapal Kenavigasian.
Pelabuhan Indonesia dengan keberangkatan penumpang tertinggi selama Nataru yaitu Batam, Nusa Penida dan Benoa.
Pelabuhan Nusa Penida dan Benoa juga digunakan sebagai pengangkutan wisata.(*)

