SAMARINDA: Tidak semua penulis lahir dari keluarga yang akrab dengan buku.
Bagi Andria Septy perempuan kelahiran 11 September asal Samarinda, perjalanan menuju dunia sastra justru dimulai dari ruang-ruang sunyi di mana ia harus menyembunyikan kecintaannya pada bacaan.
Buku dianggap barang mewah di rumahnya, namun diam-diam ia terus mengumpulkan bacaan, satu demi satu, demi memelihara hasrat menulis yang tak bisa padam.
“Jangankan beli buku sastra, buku fiksi saja dianggap pemborosan. Jadi dulu saya sering sembunyi-sembunyi kalau beli buku,” kenangnya.
Kebiasaan kecil itu menjadi titik awal lahirnya seorang penulis yang kini karyanya telah menembus media nasional hingga festival sastra bergengsi.
Dari novel indie pertamanya Calistas Conflict (2016) hingga buku puisinya Tata Laras Gema Rima yang kini beredar di toko buku besar, perjalanan Andria adalah kisah konsistensi seorang perempuan yang menulis bukan karena fasilitas, melainkan karena cinta.
Sejak kecil, Andria Septi tumbuh di lingkungan yang sederhana.
Ia tidak memiliki akses mudah pada buku-buku sastra, bahkan membeli bacaan sering kali dianggap hal yang sia-sia.
Namun, rasa ingin tahunya terlalu besar untuk bisa dibatasi.
Di balik keterbatasan itu, Andria menemukan dunianya sendiri lewat lembar-lembar buku fiksi.
Novel fantasi populer seperti Harry Potter dan karya fenomenal Supernova karya Dewi Lestari menjadi titik awal baginya untuk berimajinasi.
“Sebenarnya dari lama saya bercita-cita jadi novelis. Gara-gara baca Supernova, saya jadi kepikiran bisa juga bikin cerita sendiri,” ujarnya.
Benih keinginan itu tumbuh semakin kuat.
Meski lingkungannya tidak menaruh perhatian besar pada sastra, Andria menemukan alasan pribadi untuk menulis: sebagai ruang pelarian, sekaligus cara memahami diri.
Langkah pertama Andria dalam dunia kepenulisan terbilang sederhana. Pada 2016, ia menulis novel indie berjudul Calistas Conflict.
Novel ini mengangkat tema bulu tangkis, olahraga yang ia gemari, sekaligus menjadi wadah imajinasinya.
Meski hanya diterbitkan di aplikasi digital iPusnas, novel tersebut menjadi pintu masuk yang mengantarkannya ke jalur kepenulisan lebih serius.
Dari sana ia mulai mengenal bahwa dunia menulis bukan sekadar hobi, tetapi jalan panjang yang menuntut konsistensi.
Tidak lama berselang, pada 2017, Andria bergabung dengan Sindikat Lebah Berpikir (SLB), sebuah komunitas sastra di Samarinda.
Di sinilah titik balik perjalanan kreatifnya dimulai.
Sebelum mengenal SLB, Andria lebih banyak menulis prosa dan fiksi. Namun, di forum komunitas ini, ia bersentuhan langsung dengan puisi.
Diskusi, pertemuan, hingga pembacaan karya membuatnya membuka mata pada bentuk-bentuk sastra lain yang sebelumnya asing.
“Semenjak ikut SLB saya mulai suka puisi, mulai kenal nama-nama penyair Indonesia sampai dunia. Dari situ saya merasa ada ruang belajar yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” ungkapnya.
Bersama komunitas, ia belajar bahwa menulis bukan sekadar menyalurkan ide, melainkan juga berinteraksi dengan tradisi panjang sastra. Dari SLB pula ia mulai mengirimkan karya ke media-media nasional.
Tak butuh waktu lama bagi karya-karya Andria untuk melangkah keluar dari lingkar komunitas.
Puisinya mulai dimuat di media besar seperti Jawa Pos, Tempo, hingga Kompas.id.
Publikasi ini memperluas jangkauan pembacanya sekaligus menguji ketekunannya.
Kesempatan lebih besar datang pada 2020 ketika ia diundang sebagai Emerging Writer dalam ajang Makassar International Writers Festival (MIWF).
Sayangnya, pandemi membuatnya baru bisa memenuhi undangan itu pada 2022. Meski demikian, pengalaman tersebut semakin menguatkan posisinya sebagai salah satu penulis muda yang patut diperhitungkan.
Setelah pengalamannya di MIWF, langkah Andria semakin mantap. Tahun 2023 menjadi momentum penting bagi Septi.
Puisinya berjudul Lensa Nieuwe Wijk Yogya berhasil meraih juara kelima di Festival Sastra Yogyakarta.
Pencapaian ini bukan hanya penghargaan formal, tetapi juga pengakuan atas ketekunannya.
Setahun kemudian, ia berkesempatan mengikuti residensi seniman Joffis (Jogjakarta Fotografis Festival).
Program ini memperluas jejaringnya, mempertemukan Septi dengan para seniman lintas disiplin, serta membuka ruang eksplorasi baru bagi kreativitasnya.
Meski telah menorehkan berbagai capaian, bagi Andria menulis bukan soal popularitas atau materi. Ia memandang menulis sebagai cara untuk merawat kenangan dan berdamai dengan masa lalu.
“Ketika saya menulis puisi, rasanya seperti bisa kembali ke masa lalu. Bisa main lagi, bisa meneliti ulang kenangan. Itu sesuatu yang menyenangkan,” katanya.
Bagi Andria, menulis adalah perjalanan batin. Ia tidak mengejar keuntungan materi, tetapi menemukan kepuasan pribadi dalam setiap bait dan paragraf yang ia ciptakan.
Di luar aktivitas kepenulisan, Andria menjalani hari-harinya sebagai pengajar les privat.
Kesibukan ini tidak menghalanginya untuk terus berkarya. Ia tahu betul, menulis bukan jalan singkat menuju kesuksesan finansial, melainkan pilihan hidup yang menuntut konsistensi.
“Saya tetap bertahan karena memang suka. Menulis itu passion, bahkan kalau disebut penderitaan pun saya menikmatinya,” ucapnya.
Di antara perjalanan panjangnya, lahirlah sebuah karya penting yang ia susun dalam rentang hampir satu dekade, 2015–2024.
Buku kumpulan puisi berjudul Tata Laras Gema Rima menjadi buah perenungan paling personal dari seorang Andria Septy.
Dalam buku ini, Andria berusaha menghadirkan wajah Kalimantan dari sudut pandang seorang petualang.
Ia menenun puisi-puisinya dengan benang merah berupa kenangan yang terpendam, kerinduan yang halus, sekaligus rasa keterasingan yang mendalam terhadap tanah kelahiran.
Membaca Tata Laras Gema Rima seperti diajak berjalan menyusuri Kalimantan dari sudut yang paling kecil dan halus hutan, sungai, kampung, dan suara masa kecil yang samar.
Namun, di balik lirisme itu, Andria juga menyelipkan kegelisahan yang tajam: tentang perubahan-perubahan ekstrem yang melanda kampung halaman, dari arus modernisasi hingga pergeseran sosial budaya.
Kini, buku Tata Laras Gema Rima sudah beredar di toko-toko buku besar. Buku ini menjadi saksi perjalanan panjang seorang penulis dari Samarinda yang pernah bersembunyi hanya untuk membeli buku, hingga akhirnya bisa menghadirkan karya untuk publik luas.
Dengan konsistensi yang ia bangun sejak 2017, Andria Septy membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang.
Justru dari keterbatasan itulah tumbuh tekad yang membuatnya bertahan di dunia sastra.

