Papua-Tim sepatu roda Kaltim mendadak jadi bintang. Berangkat sebagai cabor yang tidak diunggulkan, tim sepatu roda Kaltim justru menjadi penyelamat muka Kaltim, setidaknya hingga sepekan sejak sejumlah cabor dipertandingkan .

Ketika para pesaing Kaltim sudah mengumpulkan puluhan medali emas, Kaltim masih paceklik. Beruntung Kaltim memiliki tim sepatu roda, sehingga di papan klasemen, kolom emas tertulis dengan angka 1.
Kaltim berada di posisi 16 di bawah Sulawesi Tenggara yang memperoleh 2 emas dan 1 perak. Kaltim sendiri mengumpulkan total 26 medali, terdiri dari 1 emas, 9 perak dan 16 perunggu.
Turun dengan kekuatan 7 atlet muda, tim sepatu roda Kaltim sukses membawa pulang 1 medali emas dan 4 medali perak. Hebatnya lagi, medali-medali itu dipersembahkan oleh para mantan siswa Sekolah Khusus Olahraga Indonesia (SKOI) Kaltim. Mereka dipandang sebelah mata karena turun dengan murni atlet binaan lokal, dan masih berusia muda.
Meski berangkat dengan dukungan yang sangat minim, mereka tetap mampu mengharumkan nama Kaltim dari ajang sepatu roda.
Hebatnya lagi, 4 medali perak yang mereka persembahkan ternyata diperoleh dengan menggunakan sepatu roda butut, karena KONI Kaltim hanya memberi jatah minimal, yakni hanya 2 sepatu roda baru.
“Ya, untuk 7 atlet, kami hanya mendapat jatah 2 sepatu baru. Syukur alhamdulillah, dengan hanya 2 sepatu baru yang salah satunya digunakan Anjang Pius Saruman, anak-anak kita berhasil membayarnya dengan 1 medali emas,” ungkap Manager Tim Sepatu Roda Kaltim Ali Rachman, Senin (4/10/2021).
Direktur Teknik PDAM Samarinda itu mengatakan, sejak awal mereka memang menargetkan 1 medali emas dari sepasang sepatu Anjang Pius Saruman yang memang menjadi andalan Tim PON Kaltim dan ‘disegani’ para pesaing dari provinsi lain, khususnya di nomor sprint.
“Kami sukses mencapai target 1 medali emas. Sedangkan 4 medali perak itu bonus untuk masyarakat dan kontingen Kaltim,” tegas Ali Rahman.
Tim sepatu roda Kaltim, sejak awal memang kurang diperhitungkan, sebab hanya membawa atlet-atlet muda murni dari hasil pembinaan lokal (SKOI).
Sang peraih emas, Anjang Pius Saruman merupakan lulusan SKOI tahun 2019. Ia menjadi jawara di nomor individual tim trial (ITT) 500 meter.
Sementara Rifa Moza mengawinkan dua medali perak PON Papua di nomor ITT 100 meter dan ITT 300 meter putri. Dua perak lainnya disumbangkan dengan ceceran keringat Rangga Putra ITT 300 meter putra dan team time trial (TTT) 10.000 meter putra (4 orang).
Rifa Moza sang peraih dua perak, saat ini masih duduk di bangku kelas IX atau kelas 3 SMP.
Dengan torehan 1 emas dan 4 perak, tim sepatu roda menjadi cabor penyumbang medali terbanyak untuk Kaltim dengan 1 emas dan 4 medali perak.
Menurutnya, jika sepatu roda diberi perhatian lebih besar, salah satunya dengan renovasi lapangan sepatu roda di Stadion Utama Kaltim Palaran, maka empat tahun mendatang prestasi Kaltim diyakininya akan lebih bersinar.
“Mereka masih berusia muda. Kalau mereka disiapkan lapangan yang representatif untuk latihan, maka insyaallah medali emas Kaltim akan lebih banyak,” yakin Ali Rachman.
Selama lima tahun ini, tim sepatu roda Kaltim berlatih dengan pembiayaan TC mandiri dan pribadi. Mereka berlatih serius di Bekasi dan Jakarta yang memiliki sirkuit hampir sama dengan Klementinal Sport Arena, Bukit Perkemahan Waena, Kota Jayapura, lokasi tanding pada PON Papua.
Anak-anak muda Kaltim dari arena sepatu roda sudah membuktikan, bahwa dengan latihan keras, bahkan dengan sepatu butut pun, mereka bisa menyumbangkan medali perak. Apalagi jika mereka diberikan dukungan yang cukup untuk sarana dan prasarana latihan dan sepatu yang baru, bisa jadi medali perak yang diraih akan berubah menjadi medali emas. Sangat mungkin.

