Samarinda – Ketua Tim Gubernur Untuk Pengawalan, Percepatan Pembangunan (TGUP3) Kalimantan Timur (Kaltim) H Adi Buchari Muslim mengatakan, dengan dipindahkannya ibu kota negara (IKN) ke Kaltim, jumlah permintaan berbagai kebutuhan akan naik.
“Baik itu program IKN, bertambahnya kegiatan, maupun migrasi secara spontan,” ujar Adi belum lama ini.
Sehingga kebutuhan terutama kebutuhan dasar yang telah dibicarakan bersama harus terpenuhi di Kaltim agar stabilitas harga terkendali.
“Sangat tepat kerja sama Kaltim dengan Kalimantan Selatan (Kalsel), karena ada kepastian pasar maupun kepastian produk yang harus kita konsumsi dengan harga stabil,” tegasnya.
Menurutnya, keseimbangan itulah yang harus dijaga karena Kaltim sendiri tidak bisa memproduksi secara besar-besaran, sebab wilayah Kaltim sudah terbagi-bagi.
“Baik itu kemampuan lahan maupun petaninya dan lain sebagainya,” jelasnya.
Ia menambahkan sebenarnya pencanangan beras menjadi prioritas dan sudah dibicarakan sejak tahun 1980, tetapi tidak pernah tercukupi.
Namun perkembangan menunjukkan bahwa upaya pembangunan di bidang per-berasan memang tidak pernah tercapai, meskipun pemerintah sudah membangun berbagai fasilitas infrastruktur.
“Kita lihat misalnya Bendungan Samboja. Tidak ada petaninya karena masyarakat dan lahan di pedalaman itu memang tidak bersifat persawahan,” ucapnya.
Sehingga yang berkembang selama ini meskipun lahan luas, tetapi apabila dipaksakan tentu biayanya tinggi karena harus menggunakan teknologi lebih baik.
“Kalsel dari dulu sebagai daerah pertanian yang memang diberikan Tuhan untuk melaksanakan itu,” tuturnya.
Ia pun menegaskan kerja sama antarprovinsi ini sangat bagus. Sebab, di situ ada supply dan di sisi lainnya terdapat kebutuhan (demand), sehingga pertemuan itu menyebabkan satu harga yang baik dan stabil.

