Samarinda – Kepala Pusat Genom Nasional Lembaga Eijkman Safarina G Malik menyebut varian Delta plus atau B.1.617.2.1. atau AY.1 telah ditemukan di Indonesia. Varian ini merupakan turunan varian Delta atau B.1.617.2.
Dikutip dari Tempo.co, Safarina menyebut, mengacu pada data urutan total genom (whole genome sequencing/WGS) di Indonesia, varian plus ini pertama kali diidentifikasi dari sampel di Mamuju, Sulawesi Barat, 15 Februari 2021.
“Varian ini juga ditemukan pada sampel dari Jambi pada 2 dan 9 April 2021,” ungkap Safarina.
Ia mengatakan sejauh ini masih belum diketahui tingkat penularan varian ini di Indonesia.
Di Indonesia juga telah ditemukan turunan Delta lainnya, yaitu varian Kappa atau B.1.617.1. Varian Kappa ini ditemukan pada sampel di Januari 2021 di Sumatera Selatan dan Jakarta, kemudian ditemukan lagi pada April 2021.
Menurut laporan dari Jejaring Surveilans Genom Indonesia, data pada Juni menunjukkan, telah ditemukan varian Delta pada 699 sampel, satu varian Alfa dan Beta tidak ditemukan.
Kemudian pada Juli ini, varian Delta ditemukan pada 45 sampel, sedangkan Alfa dan Beta belum ditemukan. Temuan varian Alfa dan Beta paling banyak ditemukan pada sampel yang diambil bulan Mei, yaitu 27 sampel.
”Ini data sementara karena sampel bulan Juli memang belum banyak yang selesai analisis genomiknya,” jelas Safarina.
Saat ini juga ada varian garis keturunan atau lineage B.1466.2 yang mendominasi di Indonesia. Sebelumnya juga ada B.1.470.
“B.1466.2 awalnya muncul pada November 2020, dan sebelumnya ada B.1.470 yang mulai muncul sejak April 2020,” tambah Safarina.
Terakhir, Safarina menyebut, sejauh ini belum ada data rinci mengenai karakter dan kemampuan penularan B.1466.2.
”Namun, WHO sudah menaruh perhatian khusus dan memberi peringatan untuk memberikan perhatian lebih lanjut,” ujarnya.

