SAMARINDA: Menjelang bulan Agustus, wajah Kota Samarinda mulai bersolek.
Di sepanjang jalan protokol, warna merah dan putih menyeruak di segala penjuru, bergelantungan di pagar-pagar toko, menjuntai di tiang listrik, melambai-lambai di antara tiupan angin.
Hiruk-pikuk kota seolah menyambut bulan sakral bagi bangsa Indonesia, ketika kemerdekaan menjadi tema besar yang dirayakan dengan gegap gempita.
Namun, di balik semarak peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang jatuh setiap 17 Agustus itu, ada kisah yang nyaris luput dari perhatian.
Bukan tentang parade militer atau upacara di halaman sekolah.
Melainkan tentang para pedagang musiman yang datang dari jauh, menempuh perjalanan panjang, hanya untuk menjajakan selembar kain yang sarat makna yakni bendera Merah Putih.
Hielman adalah salah satunya.
Lelaki 35 tahun asal Tanjunganom, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini sudah tiga tahun terakhir rutin merantau ke Samarinda setiap menjelang bulan kemerdekaan.
Ia bukan pejabat, bukan pengusaha besar, tapi ayah dari tiga anak yang menggantungkan harapannya pada sepotong kain dan semangat nasionalisme yang tak pernah padam.
“Ini tahun ke tiga saya jualan di sini. Datang rame-rame sama teman-teman dari kampung. Biasanya satu rombongan, terus nanti nyebar ke titik-titik jualan,” ujar Hielman sambil menata bendera di tepi Jalan Pahlawan, salah satu ruas jalan di Samarinda, Selasa pagi, 5 Agustus 2025.
Setiap kali musim kemerdekaan tiba, kelompok pedagang bendera dari Garut menyewa kamar kos sederhana di kawasan Lambung Mangkurat.
Di sanalah mereka tinggal selama lebih dari sebulan, dari akhir Juli hingga hari-hari setelah 17 Agustus.
Kehidupan mereka nyaris tak tersentuh radar perhatian publik.
Mereka bekerja sunyi, menantang terik matahari dan debu jalanan, demi mendulang rupiah dari semangat nasionalisme warga.
Rutinitas mereka nyaris tak berubah setiap tahunnya.
Pagi menggelar lapak, malam menghitung hasil.
Di tengah-tengah, mereka menanti pembeli dengan sabar, berharap rezeki datang dari tangan-tangan yang membeli lambang negara itu.
Bendera-bendera yang mereka jual bukan barang mewah.
Harganya bervariasi, mulai dari Rp10 ribu untuk ukuran kecil yang biasa dipasang di motor, hingga Rp500 ribu untuk ukuran besar yang lazim dikibarkan di depan kantor atau sekolah.
Semua tergantung ukuran dan kualitas kain.
Terkadang pembeli datang berbondong-bondong, kadang sepi tak menentu.
“Kalau ramai, bisa dapet lumayan. Tapi kalau sepi ya bawa pulang seadanya,” ujar Hielman sambil tersenyum tipis.
Keuntungan yang ia peroleh sepenuhnya bergantung pada hasil penjualan, karena ia hanya bertindak sebagai agen lapangan.
Barang dagangan sepenuhnya milik bosnya.
Ia bekerja dengan sistem komisi, artinya semakin banyak bendera yang laku, semakin besar jatah yang ia bawa pulang.
Ketika ditanya soal perizinan berdagang di pinggir jalan, Hielman tampak ragu.
Ia hanya menggeleng pelan dan menyebut bahwa urusan seperti itu diatur oleh “bos”-nya.
Hielman sendiri hanya fokus menjual.
Ia bukan pemilik barang, hanya menjadi ujung tombak dari sistem distribusi kecil-kecilan yang diatur dari kampung.
Di kampung halaman, Hielman hanya seorang petani kecil.
Lahan terbatas dan hasil panen tak menentu membuatnya harus mencari alternatif lain untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.
Musim berdagang bendera menjadi satu-satunya waktu di mana ia bisa mendapatkan pemasukan lebih besar dari biasanya.
Uang hasil berdagang biasanya digunakan untuk membayar biaya sekolah, membeli kebutuhan rumah tangga, atau sekadar menambal utang.
Ia mengenang, tahun pertamanya datang ke Samarinda penuh ketidakpastian.
Tak tahu medan, tak kenal siapa-siapa.
Tapi dari tahun ke tahun, jaringan antar pedagang semakin terbentuk.
Mereka saling membantu, saling mengisi informasi titik-titik strategis yang ramai pembeli.
Keakraban antar pedagang pun menjadi semacam keluarga baru, meski hanya berlangsung sebulan.
“Sekarang sih sudah kayak keluarga. Walaupun cuma sebulan bareng, tapi rasanya dekat,” ucapnya.
Meski terkadang harus kucing-kucingan dengan petugas atau pindah lokasi karena dilarang berjualan di zona tertentu, semangat Hielman tak pernah padam.
Baginya, pekerjaan ini jauh lebih mulia daripada mengemis atau menunggu uluran bantuan.
“Yang penting halal. Saya senang bisa jualan bendera. Rasanya ikut meriahkan HUT RI, walaupun sambil cari nafkah,” katanya sembari membungkus satu lagi bendera yang dibeli oleh pengendara yang melintas.
Baginya, kembali ke Samarinda tahun depan bukan sekadar rencana, melainkan keniscayaan.
Kota ini telah menjadi bagian dari ritme hidupnya, tempat ia menambatkan harapan, menabur kerja keras, dan memetik secuil kebanggaan.
Sebagai pedagang kecil, ia merasa ikut menjaga semangat merah putih tetap menyala dari pinggir jalan.

